• UGM
  • IT Center
Universitas Gadjah Mada Cloud Experience Research Group
Department of Electrical Engineering & Information Technology
Faculty of Engineering Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • Roadmap
  • Researches Area
    • Modern Enterprise and Software Engineering Methodology (MESEM)
    • Technology Enhanced Learning and Optimization (TELO)
    • Cloud Adoption and Cognitive Application (CACA)
  • Articles
  • Videos
  • Researcher
  • Home
  • Articles

Cloud Migration Estimation Index – Mengukur Kelayakan Pindah Ke Cloud

  • Articles
  • 3 June 2020, 14.29
  • By :

Ke Cloud atau Tetap On-Premise

Pada saat kita memiliki solusi komputasi sebut saja seperti aplikasi web, aplikasi mobile, dan aplikasi yang berhubungan dengan solusi client server. Maka pilihan organisasi adalah berada di cloud atau berada di on-premise.

On-premise artinya organisasi memiliki tanggung jawab untuk melakukan perawatan dan persiapan segara infrastruktur seperti konektivitas, sumber daya komputer, jaringan, hingga sistem operasi terbaru. Berbagai kerepotan itu terbayar dengan ringannya biaya dan luasnya kontrol terhadap semua aspek sistem. Sebaliknya, on-premise juga mengakibatkan beban tambahan seperti harus melakukan kegiatan operasional seperti melakukan patching keamanan, memperbarui hardware pada saat kapasitas tidak mencukupi, hingga menjamin ketersediaan jaringan.

Solusi cloud disisi lain mengelemininasi berbagai biaya infrastruktur dan mengkonversinya ke biaya operasional. Namun demikian, solusi cloud akan menjadi cukup mahal jika organisasi memiliki keterbatasan biaya dan kebutuhan skalabilitas yang memadai. Dengan kata lain dibutuhkan estimasi yang mencukupi untuk meyakinkan bahwa organisasi layak menuju cloud computing atau tetap dengan kondisi yang saat ini yakni berbasis on-premise dan hosted. Pertimbangan seperti ini tentu tidak mudah sehingga lahirnya Cloud Estimation Index.

CEI memiliki luaran yang dinamakan dengan DE (Deployment Effort). DE adalah usaha yang dibutuhkan oleh perusahaan. Semakin besar nilainya semakin besar usaha dan resikonya. DE memiliki setidaknya tiga komponen yakni

  1. EPC (Effort of Package Construction). EPC adalah usaha yang dibutuhkan untuk membuat paket solusi agar kompatibel dengan cloud
  2. EDS (Effort of Deployment Step). EDS adalah usaha yang dibutuhkan untuk melakukan migrasi ke cloud. Seperti mengunggah, memasang perangkat, dan aktivitas yang lain terkait dengan usaha distribusi aplikasi. EDS terbagi menjadi dua komponen utama yakni
    1. NDS. Jumlah langkah yang dibutuhkan untuk melakukan deployment
    2. DSP. Kompleksitas langkah untuk paramater yang dibutuhkan untuk langkah khusus deployment.
  3. CC (Code Change & Configuration). Mengukur sebarapa banyak kode yang berubah diakibatkan oleh pemindahan ke Cloud.

Setiap komponen akan memiliki atribut yang diukur menggunakan teknik pembobotan. Pembobotan yang disusun akan mengikuti satuan berbasis user story point. User story point adalah pendekatan pengukuran berbasis Agile yang terdapat di ruang lingkup penelitian rekayasa perangkat lunak. Untuk memudahkannya pengguna bisa menggunakan solusi berbasis Excel dalam menghitung solusi ini. CMEI saat ini sudah mendukung proses migrasi ke berbagai penyedia Cloud yakni Microsoft Azure, Amazon AWS, dan Google Cloud App.

Editor

Ridi Ferdiana

Peneliti

Redy Bintara

Tahun

2020

Tautan Publikasi

On review

Tags: cloud computing On Premise

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Related Posts

Virtual Lab berbasis Cloud Computing

Articles Wednesday, 15 July 2020

Pendidikan Tinggi dan Praktikum

Masyarakat dunia dihebohkan dengan pandemik COVID-19.

Otomasi Laporan Pajak Penelitian

Articles Wednesday, 8 July 2020

Pajak dimata Peneliti

Setiap warga negara yang berkomitmen memajukan negara, pasti patuh dan mentaati aturan negera termasuk didalamnya membayar pajak.

Capstone Project – Jadwalin

Videos Thursday, 27 June 2019

Sistem otomatis penjadwalan dengan dukungan multiple-reaslistic constraint bagi pendidikan tinggi.

Simak artikel tentang jadwalin pada link berikut.

.

Jadwalin – Aplikasi web penjadwalan otomatis

Articles Wednesday, 26 June 2019

Setiap ganti semester, staf akademik melakukan pembuatan jadwal kuliah. Untuk membuat jadwal kuliah, staf pendidikan membutuhkan beberapa komponen, antara lain.

  1. Daftar ruang kuliah, berisi nama ruang kuliah, gedung tempat ruang kuliah tersebut, kapasitas ruang kuliah.
  2. Daftar kuliah, berisi nama kuliah, jumlah mahasiswa maksimum dalam kuliah, dan dosen pengampu
  3. Daftar waktu sesi kuliah selama satu pekan, hari dan waktu mulai dan selesai tiap sesi
  4. Daftar pengecualian, berisi pengecualian yang bersinggungan antara tempat, waktu, dan dosen.

Keempat daftar tersebut diolah oleh staf secara manual untuk mendapatkan ramuan perkuliahan yang pas.

Universitas Gadjah Mada

CLOUD EXPERIENCE RESEARCH GROUP

Department of Electrical Engineering & Information Technology

Faculty of Engineering 

Universitas Gadjah Mada

 

Jl. Grafika No.2 Sinduadi, Mlati, Sleman

Daerah Istimewa Yogyakarta 55281, Indonesia

+ 62 123 456 789

cloudex@yeah.com

© Universitas Gadjah Mada