• UGM
  • IT Center
Universitas Gadjah Mada Cloud Experience Research Group
Department of Electrical Engineering & Information Technology
Faculty of Engineering Universitas Gadjah Mada
  • Home
  • Roadmap
  • Researches Area
    • Modern Enterprise and Software Engineering Methodology (MESEM)
    • Technology Enhanced Learning and Optimization (TELO)
    • Cloud Adoption and Cognitive Application (CACA)
  • Articles
  • Videos
  • Researcher
  • Home
  • Articles

Memahami Gap Penerapan AI di Dunia Pendidikan

  • Articles
  • 29 April 2026, 14.34
  • By : ridi

Latar Belakang dan Motivasi 

Penyebaran AI yang pesat di berbagai sektor, termasuk pendidikan, menggeser kompetensi yang dibutuhkan siswa secara fundamental. Kemampuan mengingat dan mereproduksi informasi yang selama ini menjadi inti pendidikan tradisional kini semakin diotomasi oleh mesin. Sebagai gantinya, keterampilan berpikir tinggi seperti penalaran dialogis, kolaborasi, penilaian etis, dan pemecahan masalah dunia nyata menjadi semakin bernilai. Di sisi lain, literatur global sudah banyak menyerukan perubahan pedagogi ke arah ini. Namun ada kesenjangan empiris yang belum terjawab: apakah siswa sendiri benar-benar menginginkan dan siap menjalani perubahan tersebut? Pertanyaan ini menjadi lebih kompleks di Indonesia karena keragaman geografis, sosial-ekonomi, infrastruktur digital yang tidak merata, serta agenda kebijakan yang semakin menekankan suara siswa dan jalur belajar yang fleksibel. Studi ini hadir untuk mengisi kesenjangan tersebut dengan menyediakan bukti empiris tentang preferensi siswa menengah atas Indonesia terhadap pedagogi yang relevan dengan era AI. 

Konsep Utama: Post-School Pedagogy (PSP) 

Para peneliti memperkenalkan dan mengoperasionalkan konsep Post-School Pedagogy (PSP) sebagai kerangka kerja unifikasi yang merangkum kebutuhan instruksional di era AI. PSP terdiri dari lima dimensi yang saling berkaitan: 

Pertama, pembelajaran dialogis, yaitu pembelajaran yang mengubah pembicaraan kelas dari monolog guru menuju dialog yang akuntabel, meningkatkan partisipasi, penalaran, dan inklusivitas. Kedua, ko-agensi, yaitu kondisi di mana siswa berbagi ruang pengambilan keputusan yang nyata atas tugas, tujuan, dan bukti belajar mereka — sebagai pendorong rasa kepemilikan dan motivasi. Ketiga, proyek berbasis komunitas, yaitu pembelajaran yang menempatkan pengetahuan dalam konteks kehidupan nyata untuk memperkuat transfer ilmu, kepekaan budaya, dan analisis kritis. Keempat, bukti autentik, yaitu asesmen berbasis artefak nyata seperti proyek, portofolio, dan penampilan yang mencerminkan apa yang benar-benar mampu dilakukan siswa, bukan sekadar skor ujian. Kelima, AI yang etis dan epistemis, yaitu penggunaan AI di dalam kelas yang disertai kesadaran tentang keadilan, privasi, dan integritas akademik. 

Kelima dimensi ini secara bersama-sama mendefinisikan ulang tujuan sekolah sebagai AI yang semakin mengotomasi tugas-tugas kognitif rutin. 

Tujuan Penelitian 

Studi ini memiliki tiga tujuan utama. Pertama, mendeskripsikan tingkat preferensi siswa secara keseluruhan terhadap kelima dimensi PSP di tingkat nasional. Kedua, memeriksa pola preferensi berdasarkan wilayah dan subkelompok demografis seperti jenis kelamin, lokasi tempat tinggal, jenjang kelas, jenis sekolah, dan status kepemilikan sekolah. Ketiga, menilai kontribusi relatif faktor individu versus faktor kontekstual terhadap variasi preferensi dan mengidentifikasi prediktor yang paling konsisten. 

Metodologi 

Penelitian ini menggunakan desain survei kuantitatif lintas-seksi. Partisipan adalah siswa kelas 11 dan 12 yang direkrut dari sekolah-sekolah di 19 dari 38 provinsi Indonesia (50% dari total provinsi), yang dikelompokkan ke dalam tiga wilayah makro: Barat, Tengah, dan Timur. Total sampel analitik terdiri dari 827 siswa, dengan distribusi 31,9% dari wilayah Barat, 31,7% dari Tengah, dan 36,4% dari Timur. 

Pengambilan sampel dilakukan secara bertahap. Provinsi dipilih untuk memastikan keterwakilan geografis. Sekolah dipilih dengan mempertimbangkan keseimbangan antara kepemilikan (negeri/swasta), jalur pendidikan (umum/vokasi), dan lokasi (perkotaan/peri-urban/pedesaan). Kelas yang utuh kemudian diundang untuk berpartisipasi. 

Preferensi siswa diukur menggunakan instrumen 10 item yang masing-masing mewakili dua item per dimensi PSP, dengan skala desirabilitas 7 poin dari 1 (tidak diinginkan) hingga 7 (sangat diinginkan). Reliabilitas internal instrumen cukup baik dengan koefisien alpha Cronbach total sebesar 0,84, sementara koefisien per dimensi berkisar antara 0,62 hingga 0,71. Validitas isi didukung melalui tinjauan pakar dari bidang pendidikan, psikologi, dan komunikasi, serta pengujian kognitif bersama siswa. 

Survei dilaksanakan selama jam sekolah oleh fasilitator terlatih, baik secara tertulis maupun melalui platform daring yang diawasi, dengan waktu pengisian rata-rata sekitar 10 menit. 

Secara analitik, untuk menjawab tujuan pertama digunakan statistik deskriptif (N, rata-rata, simpangan baku) per dimensi dan total skor di tingkat nasional dan regional. Untuk tujuan kedua digunakan ANOVA robust Welch dengan uji pasangan Holm dan uji-t Welch dengan Hedges’ g. Untuk tujuan ketiga digunakan regresi OLS dengan standard error robust HC3 dan model campuran (mixed-effects) dengan intercept acak per provinsi untuk menghitung intraclass correlation (ICC). 

Hasil dan Temuan 

Secara nasional, preferensi siswa terhadap PSP berada pada level sedang hingga tinggi dengan rata-rata total 5,22 (SD = 0,82) pada skala 1–7. Tidak ditemukan efek langit-langit, artinya variasi preferensi yang ada mencerminkan perbedaan preferensi yang genuine antar siswa, bukan sekadar respons seragam. 

Profil per dimensi menunjukkan bahwa pembelajaran dialogis mendapat endorsemen tertinggi (rata-rata 5,49), diikuti oleh bukti autentik (5,28), proyek berbasis komunitas (5,23), AI etis (5,21), dan ko-agensi (5,05). Skor ko-agensi yang sedikit lebih rendah kemungkinan mencerminkan keterbatasan pengalaman siswa dalam sistem belajar yang benar-benar memberi mereka ruang pengambilan keputusan. 

Analisis regional mengungkapkan perbedaan yang signifikan secara statistik antara wilayah Barat dan Timur, dengan selisih rata-rata 0,21 dan ukuran efek kecil (Hedges’ g = 0,24, p < 0,001). Setelah koreksi Holm, perbedaan antara Tengah dan Timur tidak lagi signifikan, dan perbedaan antara Barat dan Tengah juga tidak signifikan. Ini berarti gradient tiga-arah yang tampak pada rata-rata mentah tidak bisa diinterpretasikan sebagai pola yang stabil — secara statistik, hanya kontras Barat–Timur yang dapat diandalkan. 

Analisis subkelompok menunjukkan bahwa siswa perempuan memiliki preferensi sedikit lebih tinggi dibanding laki-laki (g = 0,17, p = 0,014), dan siswa di perkotaan atau peri-urban sedikit lebih tinggi dibanding siswa pedesaan (g = 0,15, p = 0,035). Sementara itu, perbedaan berdasarkan jenjang kelas (11 vs 12), jenis sekolah (SMA vs SMK), dan status kepemilikan (negeri vs swasta) semuanya tidak signifikan dan memiliki ukuran efek yang sangat kecil (g ≈ 0,05). 

Dalam model regresi OLS dengan penyesuaian kovariat, wilayah tetap menjadi prediktor paling konsisten. Jenis kelamin dan lokasi mempertahankan efek positif kecil, sementara kovariat lain tidak bermakna. Nilai ICC dari model campuran sangat rendah, yaitu sekitar 0,03, yang menunjukkan bahwa sebagian besar variasi preferensi berada di level siswa dan kelas, bukan di level provinsi. 

Diskusi 

Para peneliti menginterpretasikan temuan ini dalam tiga bagian sesuai tujuan penelitian. 

Terkait tujuan pertama, preferensi yang tinggi di semua dimensi PSP memperkuat argumen teoritis bahwa fasilitasi dialogis memperdalam partisipasi dan penalaran, ko-agensi menumbuhkan kepemilikan dan motivasi, proyek berbasis komunitas memperkuat transfer ilmu, asesmen autentik mencerminkan kemampuan nyata siswa, dan perhatian pada etika AI menjaga pedagogi — bukan alat — sebagai inti pembelajaran. 

Terkait tujuan kedua, gradient regional yang kecil mencerminkan ketidakseimbangan akses terhadap praktik dialogis, kolaborasi komunitas, dan infrastruktur AI antar wilayah. Keunggulan kecil siswa perempuan sejalan dengan literatur yang menunjukkan bahwa desain dialogis dan kolaboratif cenderung lebih mendukung partisipasi perempuan. Keunggulan perkotaan kemungkinan terkait dengan ketersediaan jaringan komunitas, platform portofolio, dan infrastruktur AI yang lebih baik. Tidak adanya perbedaan berdasarkan jalur sekolah dan kepemilikan memperkuat kesimpulan bahwa PSP adalah bahasa desain yang universal, dan bahwa praktik guru — bukan tata kelola sekolah — adalah tempat utama di mana orientasi PSP terbentuk. 

Terkait tujuan ketiga, nilai ICC yang rendah mengonfirmasi bahwa PSP dapat diimplementasikan melalui praktik guru di tingkat kelas, bahkan di tengah kondisi sistem yang tidak merata. Ini juga selaras dengan argumen bahwa keterampilan tahan lama — berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi — harus dijalin ke dalam pembelajaran disiplin sehari-hari, bukan ditambahkan sebagai pelengkap. 

Keterbatasan 

Desain lintas-seksi membatasi inferensi kausal karena preferensi mungkin berubah seiring penyebaran praktik PSP dan alat AI. Subscale dua-item efisien untuk survei lapangan tetapi membatasi reliabilitas. Bias desirabilitas sosial tidak bisa sepenuhnya dikesampingkan, meskipun distribusi yang tidak mencapai langit-langit dan gradient subkelompok yang kecil namun koheren mengurangi kekhawatiran ini. 

Rekomendasi 

Kebijakan perlu memprioritaskan penskalaan PSP melalui pengembangan profesional guru dalam fasilitasi dialogis, ko-desain terstruktur, dan kemitraan komunitas. Implementasi harus memprioritaskan dukungan untuk konteks Timur dan pedesaan melalui rutinitas yang responsif gender dan pelatihan etika AI yang eksplisit. Penelitian selanjutnya dianjurkan untuk melakukan studi longitudinal dan intervensi yang menghubungkan implementasi PSP dengan capaian belajar, kesejahteraan, dan partisipasi sipil. 

Kesimpulan 

Siswa menengah atas Indonesia sudah condong ke arah iklim kelas yang dinamakan Post-School Pedagogy. Mereka meminta pedagogik yang memperlakukan suara mereka sebagai sesuatu yang bermakna, menghubungkan tugas sekolah ke komunitas nyata, dan menggunakan AI secara bertanggung jawab. PSP terbukti diinginkan secara empiris oleh siswa sekaligus dibenarkan secara teoritis oleh literatur. Tugas strategis berikutnya adalah menutup kesenjangan akses dan mendukung guru agar PSP menjadi iklim belajar sehari-hari. 

Paper ini cocok disitasi oleh peneliti yang tengah mencari penelitian yang: 

  • Mengkaji preferensi dan kesiapan siswa terhadap perubahan pedagogi di era AI 
  • Meneliti implementasi pembelajaran dialogis, ko-agensi, atau etika AI di tingkat sekolah menengah 
  • Membutuhkan bukti empiris tentang variasi preferensi belajar lintas wilayah dan subkelompok demografis di Indonesia 
  • Mengembangkan kebijakan pendidikan berbasis data terkait transformasi kurikulum dan pengembangan profesional guru 
  • Mengeksplorasi kerangka Post-School Pedagogy (PSP) sebagai pendekatan instruksional yang relevan dengan era otomasi kognitif 

Penulis: Udan Kusmawaan (Departemen Pendidikan Kimia, Universitas Terbuka), Ridi Ferdiana (Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi, Universitas Gadjah Mada), Dodi Sukmayadi (Departemen Pendidikan Fisika, Universitas Terbuka), Zulfikri Anas (Departemen Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Terbuka), Sukma Wahyu Wijayanti (Departemen Pendidikan Kimia, Universitas Terbuka), dan Mery Noviyanti (Departemen Pendidikan Matematika, Universitas Terbuka). 

Jurnal: Ianna Journal of Interdisciplinary Studies, Vol. 8, No. 1, Januari 2026.  

DOI: https://doi.org/10.5281/zenodo.17956666  

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Related Posts

Memahami Deteksi DDoS di Edge Devices

Articles Wednesday, 27 May 2026

Artikel “Adaptive Deep Reinforcement Learning: A Novel Framework for DDoS Detection on Resource-Constrained Edge Devices” membahas tantangan utama dalam deteksi serangan DDoS pada lingkungan IoT, terutama karena sifat perangkat IoT yang terbatas sumber daya dan pola trafik yang sangat dinamis.

Masa Depan HPC di Era Quantum Computing dan AI

Articles Wednesday, 29 April 2026

Latar Belakang

High-Performance Computing (HPC) adalah penggunaan superkomputer dan kluster komputer untuk menyelesaikan masalah komputasi kompleks di bidang sains, teknik, dan matematika.

Memahami Bagaimana Keterbacaan Kode di Mata AI

Articles Wednesday, 29 April 2026

Latar Belakang

Code search adalah kemampuan kritis dalam pengembangan perangkat lunak modern yang mendukung penggunaan ulang kode, pemahaman, dan pemeliharaan sistem. Metode pencarian berbasis leksikal seperti BM25 telah terbukti menjadi baseline yang kuat dalam berbagai tugas code search.

Kapan Kerja Sendiri dan Kapan Kerja Bersama Kajian Pair Programming di Dunia Global

Articles Wednesday, 29 April 2026

Latar Belakang 

Pair programming adalah salah satu praktik dalam Extreme Programming (XP) di mana dua orang berkolaborasi menulis kode menggunakan satu layar dan satu keyboard.

Universitas Gadjah Mada

CLOUD EXPERIENCE RESEARCH GROUP

Department of Electrical Engineering & Information Technology

Faculty of Engineering 

Universitas Gadjah Mada

 

Jl. Grafika No.2 Sinduadi, Mlati, Sleman

Daerah Istimewa Yogyakarta 55281, Indonesia

+ 62 123 456 789

cloudex@yeah.com

© Universitas Gadjah Mada